Penderitaan yang di dapat ketika keperawanan di jual

Penderitaan yang di dapat ketika keperawanan di jual

Penderitaan yang di dapat ketika keperawanan di jualPenderitaan yang di dapat ketika keperawanan di jual ini lah kisah nya , Melahirkan adalah anugerah bagi setiap wanita. Tangisan sang jabang bayi pertama kali di dunia kerap disambut senyum bahagia seluruh anggota keluarga.

Mereka langsung berebut untuk menimang-nimang bayi. Namun tak demikian dengan Buhairiyah. Perempuan berusia 76 tahun ini justru tidak bahagia dengan kehadiran orok dari perut sang cucu, Menik.

Buhairiyah sedih lantaran bayi yang dilahirkan Menik pada 10 Februari silam itu tanpa bapak.

Perempuan tua ini sangat berharap sekali laki-laki yang telah menghamili cucunya mengakui darah dagingnya dan hadir di tengah-tengah tangisan pertama sang bayi. Tak hanya sang nenek, Menik yang telah yatim piatu juga sangat mendambakan kehadiran bapak dari jabang bayi itu.

 

Namun itu hanya harapan yang tak kunjung datang. Menik mengurus buah hatinya seorang diri di rumah bambu berukuran 5 x 5 meter di pinggir Sungai Lou, Kelurahan Pangandingan, Banyuwangi, Jawa Timur.

 

Sebab, lelaki yang diduga menghamilinya bersikukuh bayi itu bukan darah dagingnya. Derita Menik makin berat karena neneknya yang merupakan tumpuan satu-satunya juga meninggalkan gubuk yang selama ini mereka diami.

Menik dibantu beberapa saudaranya tidak mau diam menerima nasib. Mereka melaporkan perbuatan asusila itu kepada jajaran Kepolisian Sektor Kota Banyuwangi, pertengahan Januari silam.

Tidak tanggung-tanggung yang dilaporkan mereka adalah salah seorang anggota DPRD setempat. Dalam surat pernyataan itu disebutkan, anggota DPRD Banyuwangi berinisial AS telah membeli keperawanan Menik seharga Rp 2 juta.

 

Anehnya, AS bukan membela diri. Dia malah menawarkan uang “damai” agar pengaduan itu dicabut. Tawaran ditolak. Sebab, yang diinginkan Menik dan keluarganya, AS mengakui orok tersebut. Tapi, perlahan-lahan pendirian Menik goyah.

 

AS bersama sejumlah orang menemui Menik untuk minta maaf dan kembali menawarkan uang damai, 3 Maret 2006. “Dia [AS] sudah minta maaf dan mengakui kesalahannya. Terus saya juga memaafkan,” kata Menik.

Perbuatan asusila terhadap pelajar Sekolah Menengah Atas PGRI di Banyuwangi ini yang diduga dilakukan oknum anggota DPRD setempat itu langsung mengggemparkan warga. Bahkan sempat menjadi berita utama sejumlah media cetak lokal dan elektronik di Banyuwangi dalam beberapa hari. Hanya saja, hingga saat ini, AS belum juga diperiksa.

Menurut Kepala Resor Banyuwangi Ajun Komisaris Besar Polisi Gaguk Sumartono, pihaknya menunggu surat izin dari Gubernur Jatim. “Kita sudah mulai proses pemeriksaan saksi-saksi, berdasarkan ini gubernur pasti mengizinkan,” ujar Gaguk.

Dia menambahkan, pelaku terancam hukuman pidana. Ini seperti termaktub dalam Pasal 88 Undang-undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002 yang berbunyi: Setiap orang yang mengeksploitasi ekonomi atau seksual anak dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dipidana penjara maksimal 10 tahun.

 

Adapun saat ditemui SCTV, Januari silam, AS membantah telah berhubungan badan dengan Menik. “Saya tidak pernah meneteskan sperma saya kepada dia [Menik],” kata AS, enteng.

 

Pernyataan AS ini bertolak belakang dengan pengakuannya pada keluarga Menik. Dia mengaku khilaf dan meminta maaf dengan menawarkan sejumlah uang damai. Dia juga meminta keluarga Menik tak terlalu membesar-besarkan kasus ini.

Kabar telanjur menyebar. Sejak itu, AS jarang terlihat di Kantor DPRD Banyuwangi. Pria yang menjabat Ketua Fraksi Partai Demokrat itu juga jarang menghadiri persidangan di Komisi D DPRD setempat. Kasus ini langsung mendapat perhatian serius Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat Banyuwangi.

Sejumlah langkah pun diambil. Ketua DPC Partai Demokrat Banyuwangi Saut Marisi Siahaan mengaku telah meminta AS untuk menyelesaikan kasusnya. Kendati demikian, AS bersikukuh tak pernah berhubungan intim dengan Menik.

“Kenyataannya si korban sudah melaporkan ke kepolisian,” kata Saut. AS akhirnya diberhentikan dari jabatannya sebagai Sekretaris DPC Partai Demokrat berdasarkan surat keputusan Dewan Pimpinan Pusat partai berlambang bintang segitiga itu yang dikeluarkan pada 16 Februari silam.

Tak hanya itu, DPP Partai Demokrat juga mencopot AS dari jabatan sebagai ketua Fraksi Partai Demokrat di DPRD Banyuwangi.

Ternyata DPRD lebih dulu tahu kasus ini sebelum sampai di telinga polisi. Pihak keluarga Menik pernah mendatangi Kantor DPRD Banyuwangi dan melaporkan kasusnya pada Ketua DPRD Banyuwangi H. Achmad Wahyudi.

Upaya Achmad meminta klarifikasi kepada AS, hingga kini belum juga tercapai. “Saya sempat menanyakan kepada AS via telepon, tapi sampai hari ini AS belum pernah pada saya menjelaskan secara langsung,” ungkap Achmad.

Kasus ini menuai keprihatinan dari sejumlah tokoh masyarakat di Banyuwangi. Sebab, sebagai pejabat publik, AS seharusnya memberi contoh yang baik kepada masyarakat.

“Ini sudah menjadi sorotan masyarakat seluruh Banyuwangi,” ujar mantan Bupati Banyuwangi Samsul Hadi. Lantaran itu, Samsul meminta polisi menyelesaikan kasus ini secara transparan dan sejelas-jelasnya.

Penderitaan yang di dapat ketika keperawanan di jual : Menik memang tergolong keluarga miskin. Dia hidup hanya dari penghasilan sang nenek yang berjualan pisang goreng di tepi jalan.

Penghasilan neneknya hanya sekitar Rp 5.000 semalam. Meski sang nenek tak mau menyerah agar cucunya itu bisa mengenyam pendidikan tinggi. Kerja keras Buhairiyah tak sia-sia. Dia mampu menyekolahkan Menik kecil. Hingga akhirnya, Menik masuk ke SMA PGRI di Banyuwangi.

 

BACA JUGA :  TANPA AHOK JAKARTA KEMBALI KELAM

 

Akan tetapi, sejak duduk di kelas satu SMA, Menik sudah tak mampu membayar SPP dan menunggak hingga empat bulan. Pihak sekolah pun mengajukan Menik untuk mendapatkan Bantuan Khusus Murid (BKM). “Sejak awal daftar ulang [Menik] sudah meminta keringanan untuk tidak membayar full [SPP],” ujar Wakil Kepala SMA PGRI Banyuwangi Istu Handono. Dia juga mengaku kalau Menik tergolong murid yang baik dan punya kemauan untuk maju.

Penderitaan yang di dapat ketika keperawanan di jual :  Sejumlah murid SMA PGRI Banyuwangi juga mengakui kalau Menik sering mengeluh tidak punya uang untuk bayar SPP.

Bahkan ongkos angkutan untuk pergi ke sekolah pun kadang tak ada. Melihat kondisi ini, tak sedikit teman kelasnya yang iba. Menik sering ditraktir. Sejumlah teman-temannya kagum kepada Menik yang tetap tegar dalam kesusahan.

Waktu terus berlalu. Cobaan hidup yang menerpa telah menggoyahkan iman Menik. Di tengah-tengah kebingungan, anak yatim piatu ini berkenalan dengan Angga. Menik lalu meminta kepada Angga untuk dikenalkan dengan orang yang berpengaruh. Selanjutnya Angga membawa Menik menemui AS di salah satu hotel. Menik rela melepas keperawanannya dengan harga Rp 2 juta.

Nah, dari situ awal penderitaan Menik. Hari berganti hari. Perut Menik terus membesar. Selama hampir lima bulan Menik masih bisa menyembunyikan perutnya yang membuncit kepada keluarga dan pihak sekolah.

Namun aib itu akhirnya ketahuan juga. Dia pun memutuskan untuk keluar dari sekolah. “Dia [Menik] berhenti sendiri,” kata Istu.

Penderitaan yang di dapat ketika keperawanan di jual  : Walau begitu, keinginan Menik untuk terus sekolah masih menggebu. Kelak setelah anaknya sudah besar dan bisa ditinggal, dia akan ke sekolah kembali. “Saya memang ingin sekolah, anaknya ini yang jadi repot,” kata dia.

Menik berharap anak yang diberi nama Diego Samantha Casiellas ini akan tumbuh besar dan pintar. Kendati anaknya tak memiliki bapak, dia bertekad mengasuhnya hingga dewasa.

Penderitaan yang di dapat ketika keperawanan di jual  : Aku harus menjalani hidup ini dengan segala duka yang masih tersisa. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Batinku meronta di tengah ketidaktahuan dan keputusasaan. Aku harus membesarkan anakku seorang diri tanpa bapak dari anakku. Hari-hariku dijalani dengan kesuraman, ketidakpastian karena aku sudah tak punya apa-apa lagi. Bapak dan ibuku telah meninggal dan aku hanya hidup dengan bayiku dan nenek yang sudah tua. Rumah pun aku tak punya. Itulah untaian kalimat dari mulut pelajar malang ini tentang perjalanan hidup yang dialaminya.

Dibeberkan Oleh Beritaterpanas.com