Karena Dimas Kajeng Seorang istri Jual Tanah Warisan

Karena Dimas Kajeng Seorang istri Jual Tanah Warisan

Karena Dimas Kajeng Seorang istri Jual Tanah Warisan
Istri tersebut mengaku nekat menjual tanah warisan milik suaminya, Mustopa, di Pangandaran, Jawa Barat hanya untuk modal penggandaan uang.

Para pengikut Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang masih tinggal di Dusun Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, hanya tinggal beberapa puluhan orang saja.

Mereka beralasan karena sudah pada  waktunya pembuktian pencairan uang hasil penggandaan Dimas Kanjeng. Namun, alasan sebenarnya di balik keinginan mereka untuk bertahan adalah karena takut ditagih dengan  tetangga maupun kenalannya yang telah menyerahkan uang untuk digandakan Taat Pribadi.

“Mereka masih bertahan di tenda dan takut akan  pulang karena  tetangganya. Khawatir dengan uang yang totalnya hampir Rp 1 miliar yang dititipkan oleh tetangga-tetangganya ditagih,” ujar Mulyono, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Nguling, Kabupaten Pasuruan, Rabu, 5 Oktober 2016.

Mulyono juga  mengaku sempat berbincang dengan Juawariyah (42), warga Dusun Susukan, Desa Nguling, yang juga merupakan pengikut Dimas Kanjeng. Kepadanya, Juawariyah mengaku juga menjadi korban penipuan Taat Pribadi.

BACA JUGA :

POLISI DALAM BERBURU PEMBAWA UANG DIMAS KANJENG RP 2 TRILIUN

 

Sejak menjadi pengikut Dimas Kanjeng, Juawriyah telah nekat menjual tanah warisan milik suaminya, Mustopa, di Pangandaran, Jawa Barat, untuk modal penggandaan uang. Namun, uang yang diharapkan tidak kunjung ada dan ia bahkan juga diceraikan suaminya akibat hal itu pada tiga tahun lalu.

Masalah Juawariyah semakin pelik setelah dititipi tetangganya, Sulistiyowati sebesar Rp 460 juta yang tertarik dengan iming-iming penggandaan uang oleh Dimas Kanjeng. Dengan masalah yang bertubi-tubi itu, Juawariyah memilih tinggal di padepokan dengan harapan uangnya bisa kembali.

“Belum tetangga lainnya yang malu mengaku. Nah, Sulistiyowati hari ini juga  dampingi melaporkan ke polisi, Karena dia merasa jadi korban penipuan penggandaan uang itu,” tutur Mulyono kepada Beritaterpanas.com, di Padepokan Dimas Kanjeng.

Sebelumnya pemilik Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi ditangkap ribuan aparat kepolisian pada Selasa, 22 September lalu. Ia dituduh menjadi otak dari pembunuhan 2 mantan santrinya, yakni Abdul Gani yang jasadnya dibuang ke Waduk Jatiluhur Wanogiri, Jateng, dan Ismail Wahyudi yang mayatnya ditemukan di Kraksaan Prolinggo pada Februari 2015 lalu.

Dari hasil pemeriksaan penyidik Polda Jati hasil kedua kasus pembunuhan itu diduga berlatar belakang dugaan penipuan bermodus penggandaan uang yang mencapai triliunan rupiah.

Dibeberkan Oleh Beritaterpanas.com